Buku
ini merupakan kumpulan gagasan dan pemikiran Ir. Soekarno mengenai wanita.
Sebenarnya Ir. Soekarno telah memiliki maksud sejak lama untuk menulis buku
ini. Namun, banyak sekali sebab yang membuat hal tersebut tidak terjalankan.
Barulah setelah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, Ir. Soekarno
menyegerakan untuk menulis buku ini. Selain menulis buku, Ir. Soekarno juga
membuka kursus-kursus untuk wanita di Yogya yang dibantu oleh Mualiff
Nasution. Mengapa diberi nama “Sarinah”? buku ini dinamakan Sarinah
sebagai tanda terima kasih Ir. Soekarno kepada pengasuh saat beliau
kanak-kanak. Mbok Sarinah. Ia banyak membantu ibu Soekarno. Dari mbok
Sarinah, Soekarno banyak menerima rasa cinta, rasa kasih. Dari mbok Sarinah,
Soekarno banyak mendapat pelajaran mencintai “orang kecil”. Dia sendiri pun
“orang kecil”, tetapi budinya selalu besar! Moga-moga Tuhan membalas kebaikan
Sarinah itu!
Perempuan itu tiang negeri. Manakala baik perempuan,
baiklah negeri. Manakala rusak perempuan, rusaklah negeri.
Soal perempuan bukan merupakan tentang perempuan saja,
melainkan masyarakat. Soekarno banyak mengkritisi dan mengupas satu persatu
paradigma dalam masyarakat dan pandangan kaum laki-laki tentang perempuan.
Laki-laki dan Perempuan. Perbedaan fisik dan susunan tubuh
perempuan dan laki-laki. Perbedaan itu tidak lain adalah untuk tujuan kodrat
alam yaitu mengadakan keturunan dan memlihara keturunan. Selain itu perbedan
psikis antara laki-laki dan perempuan adalah perbedaan jiwa. Prof Heyman
menuturkan bahwa perempuan lebih lekas tergoyang jiwanya, lebih lekas marah
tapi lekas cinta lagi dari laki-laki, lebih lekas kasihan, lebih lekas
percaya, lebih suka anak-anak. Dengan hal tersebut tidak lantas membuat
ketajaman otaknya kalah dengan laki-laki. Banyak penelitian yang telah membuktikan
hal tersebut. banyak peneliti yang melakukan riset penghitungan volume otak
perempuan dan laki-laki. Memang benar ketika dihitung berat otak laki-laki
memang lebih besar, namun hal tersebut berbanding dengan berat tubuh
laki-laki yang juga besar. Setelah dihitung didapatkan bahwa otak perempuan
rata-rata 23,6 gram per kg tubuh dan laki-laki rata-rata 21,6 gram per kg
tubuh. Kwalitetnya sama, ketajamannya sama, kemampuannya sama hanya
kesempatan-bekerjanya yang tidak sama, kesempatan-berkembangnya yang tidak
sama.
Perempuan tempatnya ke sisi priuk nasi, pancai gula,
penerima zat anak, pengandung zat anak, melahirkan anak, pelampiasan syahwat
semata. Dulu sebelum ilmu kedokteran berkembang, tak terhitung ratusan ribu
hingga jutaan perempuan meninggal saat proses melahirkan. August Bebel
mengatakan bahwa dalam sejarah manusia, jika dijumlahkan lebih banyak
perempuan yang melepaskan jiwanya diatas padang kehormatan melahirkan
bayinya, dibanding para lelaki yang melepaskan jiwanya diatas padang penghormatan
peperangan.
Soekarno mengajak pembaca untuk mempelajari sejarah
tentang perjalanan hidup manusia yang dimulai ketika kehidupan manusia masih
berburu binatang, nomaden, berpindah dari tempat satu ke tempat lain sampai
berubah menjadi kehidupan masyarakat yang sudah menetap, memiliki rumah,
bercocok tanam, memiliki sistem hukum, pemerintahan dll tentu dalam proses
dan tahapan panjang ini tak luput dari perjuangan seorang perempuan. Naik
turun kedudukan perempuan dalam masyarakat turut mewarnai peradaban manusia
sehingga sampai pada tahap seperti sekarang ini.
Dalam bukunya ini, Soekarno menuangkan keluasan ilmunya
dengan baik. Soekarmo mengajak pembaca mengenal lebih banyak tokoh dunia,
teori tentang perempuan, pendapat-pendapat tentang perempuan hingga kebiasaan-kebiasaan
dan keyakinan-keyakinan yang dianut oleh masyarakat tentang perempuan.
Soekarno juga menjelaskan tentang kedudukan perempuan dalam berbagai agama,
misalnya islam, kristen, budha dll.
Dalam buku ini, menceritakan banyak sekali gambaran-gambaran
wanita baik di daerah-daerah di Indonesia maupun di dunia. Seperti sebuah
kisah tentang seorang laki-laki dan perempuan yang baru saja menikah,
seminggu kemudian laki-laki tersebut datang ke rumah membawa seorang sundal
dan menjadikan istrinya sebagai pelayan atas kesenangan dirinya dan sundal
tersebut. Sang istri duduk di depan pintu kamar dengan tangisan air
mata di pipi yang terus menetes dan harus siap bila-bila ada panggilan dari
suami atau sundal tersebut. Lain lagi cerita tentang Geisha yang ada di
Jepang. Di Negara yang sudah maju seperti itu pun masih banyak ketidakadilan
terhadap perempuan. Dahulu banyak sekali dijumpai para gadis bahkan anak-anak
yang sengaja dijadikan sebagai Geisha oleh bapak mereka. Sebuah keluarga
miskin akan tetap terselamatkan jika ia masih mempunyai seorang anak
perempuan. Karena dialah yang nantinya akan menyelamatkan perekonomian
keluarganya. Artinya kemodernan tidak selamanya dibarengi dengan penjunjungan
derajat perempuan.
Tatkala perempuan di dunia barat sudah sadar, sudah
bergerak, sudah melawan, maka perempuan di dunia timur masih saja diam-diam
menderita pingitan dan penindasan dengan tiada protes sedikitpun juga.
Di dunia barat pertama-tama terdengar semboyan “perempuan,
bersatulah!” dari mulut Katharina Brechkovskaya pertama-tama terdengar
seruan, “Hai wanita Asia, sadar dan melawanlah!”. Dengan hal tersebut pula
tak lantas membuat kita para perempuan Indonesia mengoper dan melaksanakan
semuanya, kita harus pelajari lebih dahulu dalam-dalam segala cita-cita dan
segala sepak terjang pergerakan-pergerakan perempuan di Barat. Kita pelajari,
kita sesuaikan dengan kepribadian bangsa dan Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
Tiada aksi revolusioner, jika tiada teori revolusioner.
Teori tak disertai perbuatan, tiada tujuan pembuatan,
perbuatan tiada pakai teori, tiada berarah tujuan.
Teori tak dengan perbuatan, mati! Perbuatan tak dengan
teori, ngawur!
Terutama sekali para pemimpin, para penunjuk jalan, para
pemegang obor, harus memahami ilmu.
Dapatkah orang memimpin dengan baik, menunjukkan jalan
kepada rakyat, mengkobar-kobarkan semangat rakyat, mengerahkan tenaga bekerja
dan tenaga perjuangan rakyat, mencapai hasil yang sebesar-besarnya dengan
mengorbankan sesedikit-sedikitnya bila orang tidak tahu jalan apa yang harus
dilalui, cara-cara apa yang harus dipakai, tujuan-tujuan apa yang harus
dituju? Dapatkah orang memimpin dengan baik, bila tidak dengan tuntutan ilmu?
Dapatkah orang memimpin dengan baik, bila ia sendiri tidak tahu jalan?
Pada lembaran-lembaran akhir buku ini, Ir, Soekarno
menitipkan pesan.
Dan kamu, kaum wanita Indonesia, akhirnya nasibmu adalah
di tangan kamu sendiri. Saya telah memberi peringatan kepada kaum laki-laki
untuk memberi keyakinan kepada mereka tentang hargamu dalam perjuangan,
tetapi kamu sendiri harus menjadi sadar, kamu sendiri harus terjun mutlak
dalam perjuangan.
Dan didalam perjuangan yang garis-garis besarnya telah
saya guratkan dimuka tadi, bantu-membantu mutlak antara laki-laki dan
perempuan harus diselenggarakan benar-benar. Syarat mutlak bagi kemenangan
revolusi nasional ialah persatuan nasional tentu juga mengenai hubungan
laki-laki dan perempuan.
Janganlah meletakkan titik berat kepada mengemukakan
tuntutan-tuntutan feministis dan melupakan tuntutan-tuntutan perjuangan
membela kemerdekaan Indonesia. Sebaliknya, adakanlah penggabungan tenaga
antara perempuan dan laki-laki sehebat-hebatnya, adakanlah perjuangan
nasional yang sebulat-bulatnya.
Laki-laki dan perempuan kesatu tujuan, tiada satu
tenagapun yang tercecer. Janganlah menentang satu sama lain, tetapi
berjuanglah bahu-membahu serapat-rapatnya membela kemerdekaan nasional.
Semua. Semua tenaga harus diarahkan sesatu tujuan arah,
kesatu tujuan revolusioner.
Wanita Indonesia, kewajibanmu telah terang! Sekarang
ikutilah serta mutlak dalam usaha menyelamatkan Republik dan nanti jika
Republik telah selamat, ikutilah serta-mutlak dalam menyusuun Negara
Nasional.
Jangan ketinggalan di dalam Revolusi Nasional dari awal
sampai akhir, dan jangan ketinggalan pula nanti di dalam usaha menyusun
masyarakat keadilan sosial dan kesejahteraan sosial.
Didalam masyarakat keadilan sosial dan kesejahteraan
sosial itulah engkau menjadi wanita yang bahagia, wanita yang merdeka!
|
Minggu, 25 Oktober 2015
SARINAH "TENTANG PEREMPUAN"
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar