Pages

Minggu, 25 Oktober 2015

Daya Tarik dalam Pembelajaran Sejarah

 Daya Tarik dalam Pembelajaran Sejarah
Dalam rangka mewujudkan belajar sejarah agar memilii daya tarik bagi peserta didik dalam proses pembelajaran, ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh guru, antara lain yaitu guru harus kreatif untuk menyiapkan dan menerapkan metode model pembelajaran yang bervariasi.
Metode pembelajaran digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Pe­milihan metode pembelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik serta karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses. Lampiran butir B.8.).
Metode/model pembelajaran bisa diciptakan sendiri atau cukup dengan mengadopsi model model pembelajaran yang sudah dirumuskan para ahli. Guru dapat melaksanakan proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM). Dengan me­nerapkan model pembelajaran yang bervariatif, siswa tidak akan mera­sakan kejenuhan dalam belajar, namun bisa dipastikan siswa akan selalu merasa senang.
Guru harus bisa memilih dan menetapkan prosedur, metode, dan teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif. Metode atau teknik penyajian untuk memotivasi anak didik agar mampu menerapkan pengetahuan dan pengalamannya untuk meme­cahkan masalah, berbeda dengan cara atau metode supaya anak didik terdorong dan mampu berpikir bebas dan cukup keberanian untuk mengemukakan pendapatnya sendiri. Perlu dipahami bahwa suatu metode mungkin hanya cocok dipakai untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Jadi dengan sasaran yang berbeda, guru hendaknya jangan menggunakan teknik penyajian yang sama. Bila beberapa tujuan ingin diperoleh, maka dituntut untuk memiliki kemampuan tentang peng­gunaan berbagai metode atau mengombinasikan beberapa metode yang relevan (Drs. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag. dan Drs. Aswan Zain (2010), h.7).
Untuk memilih metode mengajar yang akan digunakan dalam rangka perencanaan pengajaran, perlu dipertimbangkan factor faktor tertentu antara lain: kesesuaiannya dengan tujuan instruksional serta ke terlaksanaannya dilihat dari waktu dan sarana yang ada.
Setiap metode memiliki kekuatan dan kelemahannya dilihat dari berbagai sudut. Namun, yang penting bagi guru, metode mengajar apapun yang akan digunakan, harus jelas dahulu tujuan yang akan dicapai pada kegiatan pembelajaran tersebut (R. Ibrahim dan Nana Syaodih S. 2010, h.108).
Di dunia pendidikan sekarang ini sedang berkembang apa yang disebut cooperative learning atau pembelajaran kooperatif, yang su­dah menjadi kecenderungan positif pada kegiatan pembelajaran di sekolah. Cooperative learning menurut Artz & Newman (Miftahul Huda, 2011, h.vii) dapat didefinisikan sebagai small groups of learners working together as a team to solve a problem complete a task or accomplish a common goal. Model pembelajaran kooperaif mengharuskan siswa untuk bekerjasama dan saling bergantung secara positif antar satu sama lain dalam konteks struktur tugas, struktur tujuan, dan struktur reward. Gagasan di balik pembelajaran ini adalah bagaimana materi pelajaran dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat bekerja sama untuk mencapai sasaran-sasaran pembelajaran.
Dari hasil-hasil penelitian, pembelajaran kooperatif mampu mem­berikan pengaruh signifikan terhadap pencapaian akademik siswa. Tidak hanya itu, pembelajaran ini terbukti mampu meningkatkan si­kap toleran siswa terhadap teman-temannya yang berbeda etnis, level
kemampuan dan gender.
Pebelajaran kooperatif merujuk pada berbagai macam metode pengajaran di mana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari ma­teri pelajaran. Dalam kelas kooperatif, para siswa diharapkan dapat saling membantu, saling mendiskusikan, dan berargumentasi, untuk mengasah pengetahuan yang mereka kuasai saat itu dan menutup kesenjangan dalam pemahaman masing-masing.
Pembelajaran kooperatif juga dapat digunakan sebagai cara utama dalam mengatur kelas untuk pengajaran (Robert E. Slavin 2005, h.4). Masih menurut Robert E Slavin (2005), ada banyak alasan yang membuat Pembelajaran kooperative memasuki jalur utama praktik pendidikan. Pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan pencapaian prestasi siswa, dan juga akibat positif lainnya yang dapat mengembangkan hubungan antar kelompok, penerimaan terhadap teman sekelas yang lemah dalam bidang akademik, dan meningkatkan rasa harga diri. Ala­san lain adalah tumbuhnya kesadaran bahwa para siswa perlu belajar untuk berpikir, menyelesaikan masalah, dan mengintegrasikan serta mengaplikasikan kemampuan dan pengetahuan mereka, dan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan sarana yang sangat baik untuk mencapai hal
hal itu. Berikut ini merupakan beberapa model pembelajaran kooperatif yang mungkin bisa menjadi referensi bagi guru untuk kegiatan pembelajaran dikelas.  Model-model ini sangat sesuai apabila diterapkan pada pembelajaran sejarah di kelas.
1.      Student Team Achievement Division (STAD)
Menurut Robert E. Slavin (2005), dalam model STAD, para siswa dibagi menjadi dalam tim belajar yang terdiri dari empat orang yang berbeda beda tingkat kemampuan, jenis kelamin, dan latar belakang etniknya. Guru menyampaikan pelajaran, lalu siswa bekerja dalam tim mereka untuk memastikan bahwa semua anggota tim telah menguasai pelajaran. Selanjutnya semua siswa mengerjakan kuis mengenai materi secara sendiri-sendiri, di mana saat itu mereka tidak diperbolehkan untuk saling bantu.
Skor kuis para siswa dibandingkan dengan rata-rata pencapaian mereka sebelumnya, dan kepada masing-masing tim akan diberikan poin berdasarkan tingkat kemajuan yang diraih siswa dibandingkan hasil yang mereka capai sebelumnya. Poin ini kemudian dijumlahkan untuk memperoleh skor tim, dan tim yang berhasil memenuhi kriteria ikat atau penghargaan lainnya.
Gagasan utama dari STAD adalah memotivasi siswa supaya dapat saling mendukung dan membantu satu sama lain dalam menguasai kemampuan yang diajarkan oleh guru. Jika para siswa menginginkan agar timnya mendapatkan penghargaan tim, mereka harus membantu teman satu timnya untuk mempelajari materinya. Mereka harus saling mendukung untuk bisa melakukan yang terbaik, menunjukkan norma bahwa belajar itu penting, berharga, dan menyenangkan.
Metode yang dikembangkan oleh Slavin ini melibatkan “kom­petisi” antar kelompok. Siswa dikelompokkan secara beragam berda­sarkan kemampuan, gender, ras dan etnis. Pertama-tama siswa mem­pelajari materi bersama dengan teman-teman satu kelompoknya, kemudian mereka diuji secara individual melalui kuis-kuis (Mifathul Huda, M.Pd. 2011, h.116). Metode ini bisa diterapkan untuk semua mata pelajaran, termasuk sejarah, agar belajar sejarah berhasil dan semakin menyenangkan.




2.      Jigsaw
Dalam pendekatan jigsaw, siswa bekerja bersama dalam kelom­pok-kelompok kecil di mana mereka harus saling membantu. Tiap-tiap anggota kelompok menjadi “ahli” dalam subjek persoalannya dan oleh karena itu memiliki informasi penting untuk berkontribusi kepada teman sekelas. Saling bekerjasama dan saling percaya menjadi berharga dan perlu untuk pencapaian akademis.
Ada 4 tahapan yang harus dilaksanakan dalam metode jigsaw:
Tahap 1
Guru menyusun kelompok “inti” heterogen. Selanjutnya guru memberikan tema, teks, informasi, atau materi-materi kepada kelas itu dan membantu siswa memahami mengapa mereka mempelajari materi itu. Pada tahap ini yang penting adalah bahwa siswa menjadi tertarik dengan apa yang sedang mereka pelajari.
Tahap 2: eksplorasi terfokus.
Pada tahap ini siswa dikelompokkan kembali untuk membentuk kelompok fokus. Para anggota kelompok fokus bekerja bersama-sama untuk mempelajari tema tertentu. Selama tahap ini berlangsung, siswa memerlukan dorongan untuk mengungkapkan apa-apa yang mereka pahami untuk mengklarifikasi gagasan mereka dan membangun pemahaman bersama. Pada tahap ini guru mengarahkan cara kerja siswa, juga bisa menyediakan serangkaian pertanyaan arahan untuk membantu siswa menelusuri gagasan yang ada dalam materi yang diberikan kepada mereka.
Tahap 3: melaporkan dan menyusun ulang
Siswa kembali ke kelompok inti mereka untuk mengambil giliran menjelaskan gagasan yang dihasilkan dalam kelompok fokus. Selama tahap pelaporan, para anggota kelompok didorong untuk mengajukan pertanyaan dan membicarakan gagasan itu secara mendalam.
Tahap 4: integrasi dan evaluasi
Pada tahap ini guru bisa merancang aktifitas individu, kelompok kecil, atau seluruh kelas di mana para siswa bisa secara aktif menyatukan hasil belajar mereka. Misalnya siswa disuruh melakukan demonstrasi dalam kelompok inti mereka. Mempresentasikan hasil diskusi pada kelompok fokus. Penilaian bisa dilakukan untuk masing-masing indi­vidu dengan penilaian proses.

3.      Group Investigation (GI)
Metode ini lebih menekankan pada pilihan dan kontrol siswa daripada menerapkan teknik-teknik pengajaran di ruang kelas. Da­lam metode GI, siswa diberi kontrol dan pilihan penuh untuk me­rencanakan apa yang ingin dipelajari dan diinvestigasi. Pertama-tama, siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil. Masing-masing kelompok diberi tugas atau proyek yang berbeda. Dalam kelompoknya, setiap anggota berdiskusi dan menentukan informasi apa yang akan dikumpulkan, bagaimana mengolahnya, ba­gaimana menelitinya, dan bagaimana menyajikan hasil penelitiannya di depan kelas. Semua anggota harus turut andil dalam menentukan topik penelitian apa yang akan mereka ambil. Menurut Shlomo Sharan, PhD. (2012) ada enam tahapan dalam model ini:
Tahap 1: Kelas menentukan subtema dan menyusunnya dalam penelitian kelompok.
Tahap 2 : Kelompok merencanakan penelitian mereka
Tahap 3 : Kelompok melakukan penelitian
Tahap 4 : Kelompok merencanakan presentasi
Tahap 5 : Kelompok melakukan presentasi
Tahap 6 : Guru dan siswa mengevaluasi proyek mereka
Model pembelajaran investigasi kelompok ini sangat cocok di­terapkan dalam kegiatan pembelajaran sejarah di sekolah, terutama di jenjang SMA, karena:
Pertama, jenjang SMA merupakan waktu yang paling tepat untuk menanamkan budaya meneliti di kalangan siswa. Karakteristik anak usia remaja salah satunya adalah mereka pada tahap pencarian jati diri dan memiliki rasa ingin tahu terhadap sesuatu yang baru sangat besar. Mereka akan sangat senang ketika menemukan sesuatu yang baru dari hasil kerja kerasnya. Budaya meneliti ini nantinya bisa menjadi bekal berharga ketika mereka melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, karena di perkuliahan kegiatan penelitian menjadi sebuah keharusan dan sangat diberikan kesempatan untuk mengembangkannya.
Kedua, ilmu sejarah adalah salah satu ilmu yang senantiasa ber­kembang. Banyak hasil penelitian yang dilakukan para ahli sejarah bisa menjadi tonggak sejarah baru. Hal hal baru yang dihasilkan dari sebuah penelitian sejarah menjadikan ilmu sejarah semakin berkem­bang dengan pesat. Dan ketika dalam pembelajaran sejarah kita bisa membiasakan dan membudayakan penelitian di kalangan siswa, tentu saja menjadi hal yang sangat menjanjikan bagi tersedianya generasi generasi penerus dengan karya karya besarnya.

4.       Course Reviev Horay (CRH)
Menurut Rahmad Widodo, model Course Review Horay meru­pakan model pembelajaran yang dapat menciptakan suasana kelas men­jadi meriah dan menyenangkan karena setiap siswa yang dapat menjawab benar maka siswa tersebut diwajibkan berteriak ’hore!’ atau yelyel lainnya yang disukai (http://www.wordpress.com/2009/11/10/mo­delpembelajaran 20 course review horay/).
Jadi, model pembelajaran Course Review Horay ini merupakan suatu model pembelajaran yang dapat digunakan guru agar dapat ter­cipta suasana pembelajaran di dalam kelas yang lebih menyenangkan. Sehingga para siswa merasa lebih tertarik. Karena dalam model pem­belajaran Course Review Horay ini, apabila siswa dapat menjawab per­tanyaan secara benar maka siswa tersebut diwajibkan meneriakkan kata “hore” ataupun yelyel yang disukai dan telah disepakati oleh kelom­pok maupun individu siswa itu sendiri.
Course Review Horay juga merupakan suatu metode pembelajaran dengan pengujian pemahaman siswa menggunakan soal di mana jawaban soal dituliskan pada kartu atau kotak yang telah dilengkapi nomor dan untuk siswa atau kelompok yang mendapatkan jawaban atau tanda dari jawaban yang benar terlebih dahulu harus langsung berteriak “horay” atau menyanyikan yelyel kelompoknya.
Jadi, dalam pelaksanaan model pembelajaran Course Review Horay ini pengujian pemahaman siswa dengan menggunakan kotak yang berisi nomor untuk menuliskan jawabannya. Dan siswa yang lebih dulu mendapatkan tanda atau jawaban yang benar harus langsung segera menyoraki kata kata “horay” atau menyoraki yelyelnya. Agar pemahaman konsep materi yang akan dibahas dapat dikaji secara terarah maka seiring dengan perkembangan dunia pendidikan pembelajaran Course Review Horay menjadi salah satu alternative sebagai pembelajaran yang mengarah pada pemahaman konsep. Pembelajaran Course Review Horay, merupakan salah satu pembelajaran kooperatif yaitu kegiatan belajar mengajar dengan cara pengelompokkan siswa ke dalam kelompok kelompok kecil.
Langkah langkah pembelajarannya sebagai berikut :
1.      Guru menyampaikan ko1mpetensi yang ingin dicapai.
2.      Guru mendemonstrasikan/menyajikan materi.
3.      Memberikan kesempatan kepada siswa bertanya jawab.
4.      Untuk menguji pemahaman, siswa disuruh membuat kotak 9/16/25 sesuai dengan kebutuhan  dan tiap kotak diisi angka sesuai dengan selera masing masing siswa.
5.      Guru membaca soal secara acak dan siswa menulis jawaban di dalam kotak yang nomornya disebutkan guru dan lang­sung didiskusikan, kalau benar diisi tanda benar (Ö) dan salah diisi tanda silang (x).
6.      Siswa yang sudah mendapat tanda Ö vertikal atau horisontal, atau diagonal harus berteriak horay... atau yelyel lainnya.
7. Nilai siswa dihitung dari jawaban benar jumlah horay yang diperoleh.
8. Kesimpulan.
9. Penutup.
Sedangkan menurut Yahya Nursidik dalam situsnya: http://apadefinisinya.blogspot.com/2008/05/modelpembelajarancoursereviewhoray_15.html, mengatakan bahwa model pembelajaran Course Review Horay merupakan suatu model pembelajaran dengan pengujian pemahaman menggunakan kotak yang diisi dengan nomor untuk me­nuliskan jawabannya, yang paling dulu mendapatkan tanda benar lang­sung berteriak horay.
Langkah langkah:
1.      Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2.      Guru mendemonstrasikan / menyajikan materi sesuai tpk.
3.      Memberikan siswa tanya jawab.
4.      Untuk menguji pemahaman, siswa disuruh membuat kotak 9 / 16 / 25 sesuai dengan kebutuhan dan tiap kotak diisi angka sesuai dengan selera masing-masing.
5.      Guru membaca soal secara acak dan siswa menulis jawaban di dalam kotak yang nomornya disebutkan guru dan lang­sung didiskusikan, kalau benar diisi tanda benar (v) dan salah  tanda silang (x)
6.      Siswa yang sudah mendapat tanda v vertikal atau horisontal, atau diagonal harus segera berteriak horay atau yelyel lain­nya.
7.      Nilai siswa dihitung dari jawaban benar dan jumlah horay yang diperoleh.
8.      Penutup.
Berdasarkan kedua pendapat tersebut model pembelajaran Co­urse Review Horay adalah pembelajaran yang dapat menciptakan suasana kelas menjadi meriah dan menyenangkan dengan pengujian pemahaman menggunakan kotak yang dapat menambah khasanah pembelajaran kita sehingga pembelajaran yang dirancang dapat lebih bervariatif, le­bih bermakna, menantang sekaligus menyenangkan.Pembelajaran Course Review Horay, merupakan salah satu pem­belajaran kooperatif yaitu kegiatan mengajar dengan cara pengelom­pokan siswa ke dalam kelompok kelompok kecil.

5.      Make a Match (Mencari Pasangan)
Model ini dikembangkan oleh Lorna Curran (1994). Caranya siswa mencari pasangan sambil mempelajari suatu konsep atau topik tertentu dalam suasana yang menyenangkan. Sangat cocok diterapkan pada mata pelajaran sejarah di sekolah.
Prosedur:
1.      Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa to­pik yang mungkin cocok untuk sesi review (persiapan men­jelang tes atau ujian)
2.      Setiap siswa mendapatkan satu buah kartu.
3.      Setiap siswa mencari pasangan yang cocok dengan kartunya. Misalnya: pemegang kartu yang bertuliskan “Patih Gajah Mada” berpasangan dengan pemegang kartu yang bertu­liskan “Kerajaan Majapahit”.
4.      Siswa bisa juga bergabung dengan 2 atau 3 siswa lain yang memegang kartu yang berhubungan (Miftahul Huda 2011, h.135).
Model ini akan menciptakan suasana pembelajaran yang meriah dan menyenangkan. Untuk variasi, kegiatan pembelajaran bisa dilak­sanakan di luar kelas, misalnya di lapangan, gor atau tempat terbuka lainnya untuk menambah kesan menyenangkan bagi siswa.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar