Daya Tarik dalam Pembelajaran Sejarah
Dalam rangka mewujudkan belajar sejarah agar memilii daya
tarik bagi peserta didik dalam proses pembelajaran, ada beberapa hal yang bisa
dilakukan oleh guru, antara lain yaitu guru harus kreatif untuk menyiapkan dan menerapkan
metode model pembelajaran yang bervariasi.
Metode pembelajaran digunakan oleh guru untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi
dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Pemilihan metode
pembelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik serta
karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada
setiap mata pelajaran (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun
2007 tentang Standar Proses. Lampiran butir B.8.).
Metode/model pembelajaran bisa diciptakan sendiri atau cukup
dengan mengadopsi model model pembelajaran yang sudah dirumuskan para ahli.
Guru dapat melaksanakan proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif,
efektif, dan menyenangkan (PAIKEM). Dengan menerapkan model pembelajaran yang
bervariatif, siswa tidak akan merasakan kejenuhan dalam belajar, namun bisa
dipastikan siswa akan selalu merasa senang.
Guru harus bisa memilih dan menetapkan prosedur, metode, dan
teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif. Metode atau
teknik penyajian untuk memotivasi anak didik agar mampu menerapkan pengetahuan
dan pengalamannya untuk memecahkan masalah, berbeda dengan cara atau metode
supaya anak didik terdorong dan mampu berpikir bebas dan cukup keberanian untuk
mengemukakan pendapatnya sendiri. Perlu dipahami bahwa suatu metode mungkin
hanya cocok dipakai untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Jadi dengan sasaran
yang berbeda, guru hendaknya jangan menggunakan teknik penyajian yang sama.
Bila beberapa tujuan ingin diperoleh, maka dituntut untuk memiliki kemampuan
tentang penggunaan berbagai metode atau mengombinasikan beberapa metode yang
relevan (Drs. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag. dan Drs. Aswan Zain (2010), h.7).
Untuk memilih metode mengajar yang akan digunakan dalam
rangka perencanaan pengajaran, perlu dipertimbangkan factor faktor tertentu
antara lain: kesesuaiannya dengan tujuan instruksional serta ke terlaksanaannya
dilihat dari waktu dan sarana yang ada.
Setiap metode memiliki kekuatan dan kelemahannya dilihat
dari berbagai sudut. Namun, yang penting bagi guru, metode mengajar apapun yang
akan digunakan, harus jelas dahulu tujuan yang akan dicapai pada kegiatan
pembelajaran tersebut (R. Ibrahim dan Nana Syaodih S. 2010, h.108).
Di dunia pendidikan sekarang ini sedang berkembang apa yang
disebut cooperative learning atau pembelajaran kooperatif, yang sudah menjadi
kecenderungan positif pada kegiatan pembelajaran di sekolah. Cooperative
learning menurut Artz & Newman (Miftahul Huda, 2011, h.vii) dapat
didefinisikan sebagai small groups of
learners working together as a team to solve a problem complete a task or accomplish
a common goal. Model pembelajaran kooperaif mengharuskan siswa untuk
bekerjasama dan saling bergantung secara positif antar satu sama lain dalam
konteks struktur tugas, struktur tujuan, dan struktur reward. Gagasan di balik pembelajaran ini adalah bagaimana materi
pelajaran dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat bekerja sama untuk
mencapai sasaran-sasaran pembelajaran.
Dari hasil-hasil penelitian, pembelajaran kooperatif mampu
memberikan pengaruh signifikan terhadap pencapaian akademik siswa. Tidak hanya
itu, pembelajaran ini terbukti mampu meningkatkan sikap toleran siswa terhadap
teman-temannya yang berbeda etnis, level
kemampuan
dan gender.
Pebelajaran kooperatif merujuk pada berbagai macam metode
pengajaran di mana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk
saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pelajaran. Dalam
kelas kooperatif, para siswa diharapkan dapat saling membantu, saling
mendiskusikan, dan berargumentasi, untuk mengasah pengetahuan yang mereka
kuasai saat itu dan menutup kesenjangan dalam pemahaman masing-masing.
Pembelajaran kooperatif juga dapat digunakan sebagai cara
utama dalam mengatur kelas untuk pengajaran (Robert E. Slavin 2005, h.4). Masih
menurut Robert E Slavin (2005), ada banyak alasan yang membuat Pembelajaran
kooperative memasuki jalur utama praktik pendidikan. Pembelajaran kooperatif
dapat meningkatkan pencapaian prestasi siswa, dan juga akibat positif lainnya
yang dapat mengembangkan hubungan antar kelompok, penerimaan terhadap teman
sekelas yang lemah dalam bidang akademik, dan meningkatkan rasa harga diri. Alasan
lain adalah tumbuhnya kesadaran bahwa para siswa perlu belajar untuk berpikir,
menyelesaikan masalah, dan mengintegrasikan serta mengaplikasikan kemampuan dan
pengetahuan mereka, dan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan sarana yang
sangat baik untuk mencapai hal
hal itu. Berikut ini merupakan beberapa model pembelajaran kooperatif yang
mungkin bisa menjadi referensi bagi guru untuk kegiatan pembelajaran dikelas. Model-model ini sangat sesuai apabila
diterapkan pada pembelajaran sejarah di kelas.
1.
Student
Team Achievement Division (STAD)
Menurut Robert E. Slavin (2005),
dalam model STAD, para siswa dibagi menjadi dalam tim belajar yang terdiri dari
empat orang yang berbeda beda tingkat kemampuan, jenis kelamin, dan latar
belakang etniknya. Guru menyampaikan pelajaran, lalu siswa bekerja dalam tim
mereka untuk memastikan bahwa semua anggota tim telah menguasai pelajaran.
Selanjutnya semua siswa mengerjakan kuis mengenai materi secara sendiri-sendiri,
di mana saat itu mereka tidak diperbolehkan untuk saling bantu.
Skor kuis
para siswa dibandingkan dengan rata-rata pencapaian mereka sebelumnya, dan kepada
masing-masing tim akan diberikan poin berdasarkan tingkat kemajuan yang diraih
siswa dibandingkan hasil yang mereka capai sebelumnya. Poin ini kemudian
dijumlahkan untuk memperoleh skor tim, dan tim yang berhasil memenuhi kriteria
ikat atau penghargaan lainnya.
Gagasan
utama dari STAD adalah memotivasi siswa supaya dapat saling mendukung dan
membantu satu sama lain dalam menguasai kemampuan yang diajarkan oleh guru.
Jika para siswa menginginkan agar timnya mendapatkan penghargaan tim, mereka
harus membantu teman satu timnya untuk mempelajari materinya. Mereka harus
saling mendukung untuk bisa melakukan yang terbaik, menunjukkan norma bahwa
belajar itu penting, berharga, dan menyenangkan.
Metode
yang dikembangkan oleh Slavin ini melibatkan “kompetisi” antar kelompok. Siswa
dikelompokkan secara beragam berdasarkan kemampuan, gender, ras dan etnis.
Pertama-tama siswa mempelajari materi bersama dengan teman-teman satu kelompoknya,
kemudian mereka diuji secara individual melalui kuis-kuis (Mifathul Huda, M.Pd.
2011, h.116). Metode ini bisa diterapkan untuk semua mata pelajaran, termasuk
sejarah, agar belajar sejarah berhasil dan semakin menyenangkan.
2. Jigsaw
Dalam
pendekatan jigsaw, siswa bekerja bersama dalam kelompok-kelompok kecil di mana
mereka harus saling membantu. Tiap-tiap anggota kelompok menjadi “ahli” dalam
subjek persoalannya dan oleh karena itu memiliki informasi penting untuk
berkontribusi kepada teman sekelas. Saling bekerjasama dan saling percaya
menjadi berharga dan perlu untuk pencapaian akademis.
Ada 4
tahapan yang harus dilaksanakan dalam metode jigsaw:
Tahap 1
Guru menyusun kelompok “inti”
heterogen. Selanjutnya guru memberikan tema, teks, informasi, atau materi-materi
kepada kelas itu dan membantu siswa memahami mengapa mereka mempelajari materi
itu. Pada tahap ini yang penting adalah bahwa siswa menjadi tertarik dengan apa
yang sedang mereka pelajari.
Tahap 2:
eksplorasi terfokus.
Pada tahap ini siswa dikelompokkan
kembali untuk membentuk kelompok fokus. Para anggota kelompok fokus bekerja
bersama-sama untuk mempelajari tema tertentu. Selama tahap ini berlangsung,
siswa memerlukan dorongan untuk mengungkapkan apa-apa yang mereka pahami untuk
mengklarifikasi gagasan mereka dan membangun pemahaman bersama. Pada tahap ini
guru mengarahkan cara kerja siswa, juga bisa menyediakan serangkaian pertanyaan
arahan untuk membantu siswa menelusuri gagasan yang ada dalam materi yang
diberikan kepada mereka.
Tahap 3:
melaporkan dan menyusun ulang
Siswa kembali ke kelompok inti
mereka untuk mengambil giliran menjelaskan gagasan yang dihasilkan dalam
kelompok fokus. Selama tahap pelaporan, para anggota kelompok didorong untuk
mengajukan pertanyaan dan membicarakan gagasan itu secara mendalam.
Tahap 4:
integrasi dan evaluasi
Pada tahap ini guru bisa merancang
aktifitas individu, kelompok kecil, atau seluruh kelas di mana para siswa bisa
secara aktif menyatukan hasil belajar mereka. Misalnya siswa disuruh melakukan
demonstrasi dalam kelompok inti mereka. Mempresentasikan hasil diskusi pada
kelompok fokus. Penilaian bisa dilakukan untuk masing-masing individu dengan
penilaian proses.
3.
Group
Investigation (GI)
Metode ini
lebih menekankan pada pilihan dan kontrol siswa daripada menerapkan teknik-teknik
pengajaran di ruang kelas. Dalam metode GI, siswa diberi kontrol dan pilihan
penuh untuk merencanakan apa yang ingin dipelajari dan diinvestigasi. Pertama-tama,
siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil. Masing-masing kelompok diberi
tugas atau proyek yang berbeda. Dalam kelompoknya, setiap anggota berdiskusi
dan menentukan informasi apa yang akan dikumpulkan, bagaimana mengolahnya, bagaimana
menelitinya, dan bagaimana menyajikan hasil penelitiannya di depan kelas. Semua
anggota harus turut andil dalam menentukan topik penelitian apa yang akan
mereka ambil. Menurut Shlomo Sharan, PhD. (2012) ada enam tahapan dalam model
ini:
Tahap 1: Kelas menentukan subtema dan menyusunnya dalam
penelitian kelompok.
Tahap 2 : Kelompok merencanakan penelitian mereka
Tahap 3 : Kelompok melakukan penelitian
Tahap 4 : Kelompok merencanakan presentasi
Tahap 5 : Kelompok melakukan presentasi
Tahap 6 : Guru dan siswa mengevaluasi proyek mereka
Model
pembelajaran investigasi kelompok ini sangat cocok diterapkan dalam kegiatan pembelajaran
sejarah di sekolah, terutama di jenjang SMA, karena:
Pertama,
jenjang SMA merupakan waktu yang paling tepat untuk menanamkan budaya meneliti
di kalangan siswa. Karakteristik anak usia remaja salah satunya adalah mereka
pada tahap pencarian jati diri dan memiliki rasa ingin tahu terhadap sesuatu
yang baru sangat besar. Mereka akan sangat senang ketika menemukan sesuatu yang
baru dari hasil kerja kerasnya. Budaya meneliti ini nantinya bisa menjadi bekal
berharga ketika mereka melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, karena di
perkuliahan kegiatan penelitian menjadi sebuah keharusan dan sangat diberikan kesempatan
untuk mengembangkannya.
Kedua,
ilmu sejarah adalah salah satu ilmu yang senantiasa berkembang. Banyak hasil
penelitian yang dilakukan para ahli sejarah bisa menjadi tonggak sejarah baru.
Hal hal baru yang dihasilkan dari sebuah penelitian sejarah menjadikan ilmu
sejarah semakin berkembang dengan pesat. Dan ketika dalam pembelajaran sejarah
kita bisa membiasakan dan membudayakan penelitian di kalangan siswa, tentu saja
menjadi hal yang sangat menjanjikan bagi tersedianya generasi generasi penerus dengan
karya karya besarnya.
4.
Course Reviev Horay (CRH)
Menurut
Rahmad Widodo, model Course Review Horay merupakan model pembelajaran yang
dapat menciptakan suasana kelas menjadi meriah dan menyenangkan karena setiap
siswa yang dapat menjawab benar maka siswa tersebut diwajibkan berteriak ’hore!’
atau yelyel lainnya yang disukai (http://www.wordpress.com/2009/11/10/modelpembelajaran
20 course review horay/).
Jadi,
model pembelajaran Course Review Horay ini merupakan suatu model pembelajaran
yang dapat digunakan guru agar dapat tercipta suasana pembelajaran di dalam kelas
yang lebih menyenangkan. Sehingga para siswa merasa lebih tertarik. Karena
dalam model pembelajaran Course Review
Horay ini, apabila siswa dapat menjawab pertanyaan secara benar maka siswa
tersebut diwajibkan meneriakkan kata “hore” ataupun yelyel yang disukai dan
telah disepakati oleh kelompok maupun individu siswa itu sendiri.
Course
Review Horay juga merupakan suatu metode pembelajaran dengan pengujian
pemahaman siswa menggunakan soal di mana jawaban soal dituliskan pada kartu
atau kotak yang telah dilengkapi nomor dan untuk siswa atau kelompok yang
mendapatkan jawaban atau tanda dari jawaban yang benar terlebih dahulu harus
langsung berteriak “horay” atau menyanyikan yelyel kelompoknya.
Jadi,
dalam pelaksanaan model pembelajaran Course Review Horay ini pengujian
pemahaman siswa dengan menggunakan kotak yang berisi nomor untuk menuliskan
jawabannya. Dan siswa yang lebih dulu mendapatkan tanda atau jawaban yang benar
harus langsung segera menyoraki kata kata “horay” atau menyoraki yelyelnya. Agar
pemahaman konsep materi yang akan dibahas dapat dikaji secara terarah maka
seiring dengan perkembangan dunia pendidikan pembelajaran Course Review Horay menjadi
salah satu alternative sebagai pembelajaran yang mengarah pada pemahaman
konsep. Pembelajaran Course Review Horay, merupakan salah satu pembelajaran
kooperatif yaitu kegiatan belajar mengajar dengan cara pengelompokkan siswa ke
dalam kelompok kelompok kecil.
Langkah langkah pembelajarannya
sebagai berikut :
1. Guru menyampaikan ko1mpetensi yang
ingin dicapai.
2. Guru mendemonstrasikan/menyajikan
materi.
3. Memberikan kesempatan kepada siswa
bertanya jawab.
4. Untuk menguji pemahaman, siswa
disuruh membuat kotak 9/16/25 sesuai dengan kebutuhan dan tiap kotak diisi angka sesuai dengan
selera masing masing siswa.
5. Guru membaca soal secara acak dan
siswa menulis jawaban di dalam kotak yang nomornya disebutkan guru dan langsung
didiskusikan, kalau benar diisi tanda benar (Ö) dan salah diisi tanda silang
(x).
6. Siswa yang sudah mendapat tanda Ö
vertikal atau horisontal, atau diagonal harus berteriak horay... atau yelyel
lainnya.
7. Nilai siswa dihitung dari jawaban benar jumlah horay yang
diperoleh.
8. Kesimpulan.
9. Penutup.
Sedangkan
menurut Yahya Nursidik dalam situsnya: http://apadefinisinya.blogspot.com/2008/05/modelpembelajarancoursereviewhoray_15.html, mengatakan bahwa model
pembelajaran Course Review Horay merupakan suatu model pembelajaran dengan
pengujian pemahaman menggunakan kotak yang diisi dengan nomor untuk menuliskan
jawabannya, yang paling dulu mendapatkan tanda benar langsung berteriak horay.
Langkah langkah:
1. Guru menyampaikan kompetensi yang
ingin dicapai.
2. Guru mendemonstrasikan / menyajikan
materi sesuai tpk.
3. Memberikan siswa tanya jawab.
4. Untuk menguji pemahaman, siswa
disuruh membuat kotak 9 / 16 / 25 sesuai dengan kebutuhan dan tiap kotak diisi angka
sesuai dengan selera masing-masing.
5. Guru membaca soal secara acak dan
siswa menulis jawaban di dalam kotak yang nomornya disebutkan guru dan langsung
didiskusikan, kalau benar diisi tanda benar (v) dan salah tanda silang (x)
6. Siswa yang sudah mendapat tanda v
vertikal atau horisontal, atau diagonal harus segera berteriak horay atau
yelyel lainnya.
7. Nilai siswa dihitung dari jawaban
benar dan jumlah horay yang diperoleh.
8. Penutup.
Berdasarkan
kedua pendapat tersebut model pembelajaran Course Review Horay adalah
pembelajaran yang dapat menciptakan suasana kelas menjadi meriah dan
menyenangkan dengan pengujian pemahaman menggunakan kotak yang dapat menambah
khasanah pembelajaran kita sehingga pembelajaran yang dirancang dapat lebih
bervariatif, lebih bermakna, menantang sekaligus menyenangkan.Pembelajaran
Course Review Horay, merupakan salah satu pembelajaran kooperatif yaitu
kegiatan mengajar dengan cara pengelompokan siswa ke dalam kelompok kelompok
kecil.
5.
Make
a Match (Mencari Pasangan)
Model ini
dikembangkan oleh Lorna Curran (1994). Caranya siswa mencari pasangan sambil
mempelajari suatu konsep atau topik tertentu dalam suasana yang menyenangkan.
Sangat cocok diterapkan pada mata pelajaran sejarah di sekolah.
Prosedur:
1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang
berisi beberapa topik yang mungkin cocok untuk sesi review (persiapan menjelang
tes atau ujian)
2. Setiap siswa mendapatkan satu buah
kartu.
3. Setiap siswa mencari pasangan yang
cocok dengan kartunya. Misalnya: pemegang kartu yang bertuliskan “Patih Gajah
Mada” berpasangan dengan pemegang kartu yang bertuliskan “Kerajaan Majapahit”.
4. Siswa bisa juga bergabung dengan 2
atau 3 siswa lain yang memegang kartu yang berhubungan (Miftahul Huda 2011,
h.135).
Model ini
akan menciptakan suasana pembelajaran yang meriah dan menyenangkan. Untuk
variasi, kegiatan pembelajaran bisa dilaksanakan di luar kelas, misalnya di
lapangan, gor atau tempat terbuka lainnya untuk menambah kesan menyenangkan
bagi siswa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar